Kenapa Saya Pilih Blender Buat Bikin Animasi 2D?

Salah satu hobi yang saya tekuni adalah membuat animasi. Ini bukan hobi yang serius, saya hanya meluangkan waktu kurang dari satu jam dalam sehari untuk mengerjakan animasi saya. Tapi, saya menikmati prosesnya. Saya menulis sendiri animasi ini, dan saya juga yang mengisi suaranya bersama teman-teman saya.

Series animasi ini berjudul Keluarga Toto, bercerita tentang kehidupan satu keluarga dengan kelucuan mereka. Saya merilis series animasi ini secara gratis di Youtube, dan kamu bisa tonton episode pertamanya di bawah sini:




Episode pertama series tersebut punya duraasi sekitar 5 menit, dan saya mengerjakannya dengan waktu yang sangat lama, berbulan-bulan. Itu karena saya merasa kesulitan untuk meluangkan waktu untuk mengerjakannya. Jujur, saya sering merasa kehilangan semangat untuk mengerjakannya. Mungkin karena membuat animasi itu susah. Tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini.

Yang akan saya bahas di sini adalah blender, software yang saya gunakan untuk bikin animasi ini.

Blender itu apa?
Blender adalah alat yang biasa kita gunakan untuk bikin jus dan menggiling bumbu. Tapi bukan blender yang itu yang aku pakai buat bikin animasi. Blender yang saya maksud adalah software gratis dan open source yang punya banyak fitur canggih. Mungkin kamu sudah pernah dengar, atau bahkan pernah mempelajari software ini.

Blender dikenal sebagai aplikasi buat bikin model dan animasi 3D. Sudah banyak film dan series terkenal yang memanfaatkan blender untuk pembuatan animasi dan spesial effeknya. Contoh film terkenal yang dibikin pakai blender adalah Flow, film kucing yang menang penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik tahun 2025. Contoh film lain adalah Jumbo, film animasi Indonesia yang laku keras dan tayang di banyak negara. Bukan cuma film, blender juga dipakai di industri game untuk pembuatan aset 3D-nya. 

Tapi, yang mungkin tidak banyak orang tahu adalah, blender juga punya fitur untuk bikin animasi 2 dimensi. Grease Pencil adalah objek dua dimensi yang bisa kita manfaatkan buat bikin ilustrasi atau animasi 2 dimensi. Ini adalah objek vektor yang terbuat dari titik-titik yang tersambung membentuk gambar. Jadi, bisa dibilang, grease pencil lebih mirip seperti objek mesh di blender daripada objek vektor biasa, tapi dengan material khusus dan fungsi yang berbeda. 

Karakter 2d dengan rig di Blender

Grease Pencil punya banyak kelebihan karena sebagai objek blender, dia sangat fleksibel. Kita bisa gunakan armature layaknya objek blender biasa. Kita juga bisa pasang modifier pada grease pencil. Lebih canggih lagi, objek grease pencil mendukung geometry node. Selain itu, grease pencil juga mendukung preasure sensitivity pen tablet untuk mengatur ketebalan dan kepekatan outline-nya, membuatnya cocok untuk menggambar dengan tangan. Objek grease pencil dapat dianimasikan secara frame by frame seperti animasi tradisional, atau juga dapat dianimasikan dengan rig. Kita juga bisa memadukan objek grease pencil dengan objek 3 dimensi.

Apakah ada film yang memanfaatkan fitur ini? Saya tahu satu judul film yang pakai grease pencil untuk animasinya. Film itu berjudul 'I Lost My Body', film netflix yang sangat saya suka. Saya menonton film itu beberapa kali. Film ini dirilis tahun 2019. Film ini dibuat ketika fitur grease pencil di blender masih belum matang dan tidak selengkap sekarang. Walau begitu, film ini punya visual yang memukau dengan animasi dengan gaya yang unik.

Jadi, blender punya fitur yang cukup lengkap untuk bikin animasi dua dimensi. Tapi, kenapa tidak terlalu populer di Indonesia? Tentu populer tidaknya itu relatif, tapi saya merasa bahwa grease pencil bisa lebih terkenal. Saat ini, belum banyak video tutorial grease pencil berbahasa Indonesia di YouTube. Fitur ini juga tidak diajarkan di sekolah SMK. Setahu saya, Adobe Animate masih jadi pilihan software yang diajarkan untuk membuat animasi 2 dimensi. Padahal, Adobe sudah menghentikan pengembangan software ini. Seharusnya orang-orang mempertimbangkan Blender Grease Pencil untuk menggantikan Adobe Animate karena software ini gratis dan punya fitur yang lebih lengkap dan canggih.

Tapi, saya rasa ada alasannya grease pencil kurang diminati. Mungkin salah satu alasannya adalah blender terlihat susah untuk dipelajari. Bagi orang awam, ketika pertama kali buka blender, dia disuguhkan dengan tampilan yang rumit, dan itu membuat mereka takut untuk mulai mempelajarinya. Banyaknya fitur di software ini juga menjadikannya susah untuk dipelajari. Dan saya rasa itu ada benarnya. Blender memang lebih susah untuk dipelajari dibandingkan Adobe Animate. 

Walau begitu, saya tidak hilang harapan. Saya merasa blender grease pencil masih punya potensi untuk jadi pilihan animator dan ilustrator dua dimensi, baik profesional atau amatiran. Loh, bukannya blender grease pencil itu rumit dan susah dipelajari? Memang ada benarnya, setidaknya untuk saat ini. 

Karena saat ini blender sedang mengembangkan tampilan baru yang lebih cocok untuk pengguna tablet. Jadi, dengan tampilan baru ini, blender disusaikan dengan input layar sentuh dan pen stylus. Nantinya, blender juga bakal dapat berjalan di iPad dan tablet lain. Jadi, saya berharap dengan tampilan baru ini, blender makin lebih mudah untuk dipelajari oleh pemula. Dengan begitu, makin banyak orang yang tertarik untuk memilih blender sebagai software animasi dua dimensi. 

Blender nantinya akan bersaing dengan aplikasi iPad lain yang sudah terkenal seperti Procreate Dreams, Toon Squid, Callipeg, dan lain-lain. Saya rasa, blender punya potensi untuk jadi pilihan banyak orang karena punya satu kelebihan yang tidak dimiliki yang lain, yaitu gratis. Dan saya juga berharap, dengan tampilan yang baru ini, nantinya blender grease pencil diajarkan di sekolah SMK sebagai pengganti Adobe Animate.

Saya memilih blender untuk bikin animasi saya karena blender itu gratis dan dapat berjalan di Linux, mengingat laptop saya sekarang berjalan dengan sistem operasi Linux. Fiturnya yang banyak membuat saya tertarik untuk mempelajari blender grease pencil. Bahkan, saya juga membuat banyak tutorial blender grease pencil di YouTube dengan harapan software ini makin populer.

Ada beberapa tantangan dalam menggunakan software ini sebagai software animasi 2 dimensi. Tantangan yang pertama adalah software ini susah untuk dipelajari, setidaknya dibandingkan dengan Adobe Animate (dulunya Adobe Flash), software animasi yang dulu saya pelajari di SMK. Kesulitan ini ditambah dengan sedikitnya tutorial di YouTube tentang software ini ketika awal-awal saya belajar dulu. Untungnya sekarang sudah mulai banyak, walau tutorial berbahasa Indonesia masih jarang. 

Tantangan lain adalah spesifikasi laptop saya kurang mumpuni untuk menjalankan blender. Sebenarnya, laptop saya dapat membuka dan merender objek grease pencil dengan lancar. Tapi animasi saya juga menggunakan objek 3 dimensi sebagai backgroundnya, dan itu bikin rendernya makin lama. Bahkan kadang saya kesulitan untuk sekadar memindahkan objek karena biasanya background yang saya bikin punya banyak aset. Seharusnya saya bisa bikin scene-nya jadi lebih optimal, tapi saya nggak tahu gimana caranya. Kemampuan blender saya memang sangat terbatas.

Dan itu menjadi tantangan saya selanjutnya, yaitu kemampuan saya masih sangat terbatas. Saya masih perlu banyak belajar untuk bikin animasi dengan lebih efektif dan efisien. Sering kali, saya berhadapan dengan kendala, dan saya kebingungan untuk menyelesaikannya. Tapi saya tetap nemu cara buat menyelesaikannya. Mungkin itu bukan cara terbaik, mungkin ada cara lain yang lebih efektif. Tapi tidak apa-apa. Namanya juga masih belajar.





Comments

Popular Posts