Naik Bus Transjatim dan Mandi di Pemandian Air Panas

 26 November 2025.

Aku pergi ke Malang bersama ibu untuk berkunjung ke rumah Rima. Kami naik kereta dari stasiun Tulungagung menuju stasiun Malang Kotalama. Rima dan Eca ikut bersama kami.

Ibu Makan Manco di Bus

Kami berangkat dari terminal Trenggalek ke terminal Tulungagung. Ibu makan manco ketika bus mulai berangkat.

Aku di Stasiun Tulungagung

Kereta berangkat dari Tulungagung sekitar jam 1 dan sampai di stasiun Malang Kotalama sekitar jam 4.

Aku ingin menonton film di bioskop. Film yang aku incar adalah Wicked: For Good. Aku mau nonton film itu karena aku suka dengan film pertamanya. Saya juga membaca novel The Wonderful Wizard of Oz, cerita asli dari film ini.

Filmnya tayang jam 6 dan jam 9. Aku memutuskan untuk nonton jam 6. 

Aku ke Matos buat nonton film itu. Sebelum itu, aku beli dulu tiketnya di aplikasi cinepolis. Ternyata harganya mahal, 57.500. 

Aku naik grab bike ke sana. Walau gerimis, saya tetap semangat karena tak sabar buat nonton filmnya. 

Dalam perjalanan, aku berpapasan dengan bus Transjatim. Dari driver grab bike yang saya tumpangi, aku jadi tahu kalau bus itu sedang menuju Batu. Katanya, kita bisa naik bus itu gratis karena masih dalam uji coba. Bus itu terlihat penuh, ada penumpang yang berdiri. Aku jadi kepikiran buat mencoba naik bus itu.

Aku tiba di Matos, dan langsung berjalan menuju bioskop. Ternyata aku tidak harus mencetak tiketnya. Aku bisa langsung scan QR code, kemudian langsung masuk. Aku masih harus menunggu sampai filmnya tayang. Aku berfoto dulu dengan poster filmnya.

Setelah menunggu, akhirnya aku boleh masuk ke dalam studionya. Dan ternyata aku masih harus menunggu cukup lama sebelum filmnya tayang. Bioskop ini menayangkan iklan yang banyak sekali. Berbeda dengan bioskop di Trenggalek dan Tulungagung.

Aku suka filmnya, walau tidak sebagus film yang pertama. Tapi, menurutku bakal seru kalau menonton film pertama dan kedua secara langsung.

Setelah filmnya selesai, aku ke Matahari buat mencari baju. Jaraknya cuma beberapa langkah dari bioskop. 

Baju yang aku beli adalah kaos bergambar batman ninja dan Baymax. Aku milih itu karena aku suka dengan filmnya. 

Aku menunggu di depan Matos buat mencari ojol. Sayangnya, malam itu ojol susah dicari. Akhirnya aku pakai gojek. Harganya lebih mahal, tapi akhirnya aku dapat ojol. Malam itu gerimis. 

Dekorasi Natal di Depan Matos


Aku turun di Momoyo. Di sana aku berjalan masuk gang buat ke rumahnya Rima. Aku kesulitan mencari rumahnya. Tak sengaja, aku bertemu dengan mertuanya Rima. Dia menunjukkan arahnya. Tapi saya tetap nyasar. Untungnya aku bertemu lagi dengan mertuanya Rima dan dia menunjukkan rumah Rima yang ternyata tak jauh dari tempatku nyasar.

27 November 2025.

Ibu mengajakku beli pakaian. Bersama ibu, Rima, dan Eca, kami pergi ke sebuah toko di dekat alun-alun naik grab car. 

Pakaian yang aku pilih adalah jaket berwarna hijau, kaos basket berwarna putih, dan celana pendek abu-abu. Ibu membelikanku handuk kecil karena aku bilang kalau aku mau berenang. 

Aku berubah pikiran, aku tidak jadi ingin berenang. Aku ingin naik bus Transjatim ke Batu. Aku sudah install aplikasinya dan mencari halte tempat bus berhenti. Sebelum itu, aku beli jas hujan plastik seharga 10 ribu, jaga-jaga kalau hujan.

Aku menunggu bus di halte.

Aku berjalan menuju halte. Untuk ke sana, aku naik jembatan penyeberangan. Ternyata di sana sudah ada calon penumpang yang sedang menunggu. Aku ngobrol dengan mereka, membahas bus yang akan kami tumpangi.

Bus datang, dan kami naik. Semua kursi sudah terisi, jadi semua penumpang baru harus berdiri. Aku berdiri di depan sambil pegangan. 

Aku berdiri di bus.


Sepanjang perjalanan, beberapa ada penumpang naik dan turun. Akhirnya aku mendapat tempat paling belakang. Di sana, aku bisa berdiri atau duduk, tapi bukan di kursi. 


Bus ini juga berhenti di Jatim Park.

Bus tiba di terminal Batu sekitar pukul 11. Di sana, aku manggil ojek online. Aku menunggu di seberang Pasar Induk, tapi aku disuruh berjalan turun ke dekat toko emas karena itu zona merah. 

Tujuanku adalah sebuah pemandian air panas yang dulu pernah aku kunjungi. Saya sudah lama ingin berkunjung kembali ke tempat ini, dan aku tidak sabar untuk segera berendam air panas di sana. 

Ketika masih tinggal di Malan dulu, saya pernah diajak teman ke sana, tapi tidak jadi. Dan sekarang akhirnya saya bisa berkunjung ke tempat itu. 

Dalam perjalanan di atas motor, saya disuguhi dengan pemandangan kota Batu yang sangat menarik. Rumah-rumah terlihat kecil, banyak sekali. Mulai masuk kawasan wisata, suasananya berubah menjadi asri. Banyak pohon di sana-sini. Sejuk rasanya.

Buat masuk ke pemandian air panas, aku cukup bayar 10 ribu. Penjaganya seorang ibu yang ramah, mengatakan kalau pemandian masih sepi. Tapi, aku sudah mendengar suara anak-anak di dalam. 

Ternyata saat itu tidak terlalu sepi. Di dalam sudah banyak orang yang sedang mandi dan berendam. Di sana sudah ada banyak orang, mulai dari anak-anak, remaja, sampai bapak-bapak juga ada. 

Semua gayung sedang dipakai, aku jadi harus menunggu giliran buat mandi. Sebenarnya ada kolam yang kosong, tapi airnya juga kosong, dan ember buat mengisi juga masih dipakai. 

Mungkin aku bisa berendam di kolam bersama bapak yang sedang sendirian. Tadi dua bocah juga berendam bersamanya, tapi mereka sudah pindah ke kolam lain. Jadi, aku punya kesempatan untuk berendam. Aku langsung melepas pakaian, kemudian menghampiri bapak yang sedang berendam, dan berkata dalam bahasa krama, “Apa boleh saya gabung?”

Dan dengan ramah, bapak itu mengiyakan. 

“Apa mau saya tambah airnya?” tanyaku.

Bapak itu mau kolamnya ditambah air lagi. Jadi, aku mengambil ember untuk mengambil air dari sumbernya, lalu menuangkannya ke kolam bapak itu. Agak berat karena ember itu besar. Sebenarnya itu bekas wadah cat, kalau tidak salah. Setelah merasa airnya cukup penuh, aku nyemplung ke kolam itu. 

Akhirnya aku bisa menikmati panasnya berendam dengan air panas alami yang menenangkan. Rasanya nyaman sekali. Aku bisa rileks walau suara bocah yang ramai menghiasi suasana. Bapak di sampingku diam saja menikmati hangatnya air. 

Di sini, pengunjung tidak ragu untuk telanjang bulat ketika mandi dan berendam. Ketika pertama kali berkunjung ke sini, aku untuk telanjang. Saya tidak percaya diri dengan tubuh saya. Tapi, akhirnya saya berani untuk melepas semua yang saya kenakan, dan saya bisa menikmati air panas alami bersama pengunjung yang lain tanpa malu. 

Bapak di sampingku keluar kolam setelah puas berendam. Dia ke sumber air, lalu mengambil gayung dan mandi di sana. 

Di sini, kita bisa mandi pakai sabun dan keramas pakai sampo. Ada juga yang membersihkan badan dengan menggosokkan batu ke kulit. Aku pernah dengar, dulu orang juga melakukan ini ketika mandi. 

Bapak yang tadi berpakaian, lalu pergi. Beberapa pengunjung lain juga pergi setelah puas mandi. Aku masih di sini, mandi pakai gayung sambil mendengar perbincangan pengunjung yang membahas harga sayur dan buah. Aku menebak mereka penjual sayur.

Ada pengunjung baru datang lagi, seorang bapak yang sudah tua. Dia tidak berendam, hanya mandi pakai gayung. Dia sempat bercengkrama dengan pengunjung lain. Dia juga mengajakku bicara. Aku memberitahunya bahwa aku dari Trenggalek. Dia mengaku kalau dia pernah ke Ngetal. Dia juga mengaku mengenal orang-orang asal Trenggalek. 

Ada pengunjung baru yang mengajak berendam bersama. Kami ngobrol tentang banyak hal. Aku memintanya untuk memotretku ketika berendam, untuk dijadikan kenang-kenangan. Dengan senang hati, dia mau membantuku.

Dia menawarkan tumpangan ke terminal, aku menerima tawarannya. Sepanjang perjalanan, dia bercerita tentang bus yang remnya blong hingga terjadi kecelakaan. 


Sesampainya di terminal, aku harus menunggu bus. Ternyata aku harus menunggu cukup lama. Tapi, bus itu datang juga.


Komentar

Postingan Populer