Pengalaman Saya 5 Tahun Pakai Linux

 

  1. Pembukaan.





Nggak kerasa, sudah 5 tahun aku pakai Linux (tepatnya Pop Os) di laptopku. Lama banget, ya guys? Kalau nggak percaya, kamu bisa cek video-video saya di YouTube, terutama video-video tutorial saya. 


Kalau nggak salah, awal aku install Linux itu di tahun 2020, dan sampai sekarang masih betah. Emangnya, senyaman apa, sih pakai Linux? Apakah ada kendala? Apa alasanku pindah ke Linux? Apa kelebihan dan kekurangannya? Tonton video ini sampai akhir biar tahu jawabannya.


  1. Awal mengenal linux.


Jadi, sebenarnya aku sudah kenal Linux sejak lama, jauh sebelum aku memutuskan buat install di laptopku tahun 2020. Pas masih SD dulu, mungkin kelas 6 atau 5, kakakku punya warnet, di mana komputer-komputernya pakai Linux. Aku nggak ingat distro apa yang dipakai, karena aku masih kecil dan belum paham, mungkin Ubuntu. Dulu aku pakai komputer di warnetnya buat browsing, main game di browser, dan nonton video di youtube. Tapi tidak ada game online seperti Point Blank, Dota, atau yang lainnya. Menurutku keren banget ada warnet yang pakai Linux. Biasanya warnet itu selalu pakai windows. Dulu aku merasa tampilannya berbeda dengan komputer di warnet biasa, tapi seingatku aku masih belum paham linux itu apa.


Kemudian, pas masuk SMK, aku dikenalkan kembali dengan Linux. Di sana aku mulai belajar Sistem Operasi itu apa, dan juga Linux sebagai alternatif Windows. Salah satu tugas yang diberikan adalah menginstall Linux di virtualbox. Saat itu, distro yang dipakai adalah Debian. Aku merasa tampilannya bagus dan keren.


Karena tertarik, akhirnya aku juga install Linux Debian di netbook aku. Kalau tidak salah ingat, aku melakukan itu karena aku sudah punya laptop lain yang lebih bagus dan menjalankan Windows 7. Jadi, tidak ada ruginya kalau aku install Linux di netbook aku.


Tapi, sialnya aku salah install, guys. Aku salah ngatur partisi, jadi semua file aku di netbook itu hilang. Waduh. 


Tapi aku suka menggunakan Debian di netbook itu. Tidak ada kendala ketika install dan menjalankannya. Bahkan rasanya lebih lancar dari windows 7. 


  1. Alasan pindah ke linux.


Kita loncat ke tahun 2020, di mana aku install PopOs! di laptop utamaku. Btw, laptop ini adalah komputer ketiga saya. Netbook saya sudah rusak, dan laptop saya yang satunya juga rusak kena air. 


Alasan aku install Linux di laptop ini adalah karena Windows aku nggak aktif, guys? Jadi di kanan bawah ada tulisan activate windows. Dan aku terganggu dengan tulisan itu. Selain itu, aku juga tidak bisa ganti wallpaper, guys? 


Kok bisa? Ternyata pas beli laptop itu, windows-nya bajakan, atau memang belum diaktifkan. Awalnya memang nggak ada tulisan activate windows, dan aku masih bisa ganti wallpaper. Tapi setelah lama dipakai, kok muncul tulisan itu. Memang mengganggu, sih. Dan sebenarnya aku bisa saja menghilangkannya dengan cara install ulang, terus aktifkan windows-nya dengan cara resmi, yaitu dengan beli windows key, atau tidak resmi pakai crack. Aku nggak tahu sekarang windows apa masih bisa di-crack, seharusnya masih bisa. Tukang servis komputer pasti tahu caranya. Tapi aku nggak nyuruh, lo ya! Sebaiknya jangan!


Alasan lain adalah karena windows saya terasa lemot banget. Sering terjadi crash. Mungkin itu karena sudah terjangkit virus, aku nggak paham. Dan mungkin itu bisa diobati dengan install ulang. Tapi alih-alih install ulang, aku malah install linux. 


Kok gitu? Itu karena aku malas install ulang. Kalau aku install ulang, nanti aku harus install semua aplikasi yang sudah ada di windows-ku. Dan saat itu aku masih pakai banyak aplikasi bajakan, terutama software-nya Adobe. Jangan dicontoh. Jadi, kalau aku mau install ulang, nanti aku juga bakal harus download software bajakan yang sumbernya mencurigakan, terus aku perlu crack software itu biar bisa jalan tanpa bayar. Aku malas buat melakukan itu.


Eh, bukannya kalau install Linux juga perlu install aplikasi lagi, ya?


Emang iya, sih. Tapi saat itu aku install Linux di hardisk yang beda. Jadi, aku masih bisa pakai windows kalau aku butuh. Aku pakai hardisk bekas netbook-ku yang aku copot, kemudian aku sambungkan pakai kabel sata to USB. Tujuannya memang buat coba-coba. Awalnya memang belum punya niat untuk menjadikan Linux sebagai sistem operasi utama di laptopku. Jadi, kalau aku mau pakai Linux, aku tinggal tancapin hardisk ini ke laptop. Kalau mau pakai windows, aku cabut hardisk ini. 


Jujur, aku kagum dengan Linux yang berjalan di laptopku saat itu. Karena rasanya lebih kencang dari windows 10 yang biasa aku pakai. Padahal saat itu aku pakai hardisk, bukan SSD. Dan itu adalah hardisk bekas. 


Walau begitu, saat itu aku masih sering pakai windows kalau perlu. Saat itu aku masih sering bikin video tutorial Adobe Animate, dan software itu tidak bisa berjalan di Linux. Selain itu, aku butuh windows untuk keperluan printing. Lha, emangnya di Linux nggak bisa ngeprint? Bisa, sih. Tapi ada kekurangannya. Nanti saja aku ceritakan.


Nah, karena sudah mulai terbiasa pakai Linux, sudah belajar software-software alternatifnya, sudah merasa lebih nyaman pakai Linux, dan sudah jarang masuk Windows, aku memutuskan buat pakai Linux sebagai sistem operasi utama dan meninggalkan Windows sepenuhnya. 


Tapi, sebelum itu aku mau upgrade RAM dan pasang SSD di laptop aku biar kencang. Dan aku minta tukang servis-nya buat dualboot laptop aku. Jadi di dalam SSD itu diinstall Linux dan Windows, biar aku bisa gonta-ganti sesuai kebutuhan. Dan distro yang aku pilih saat itu adalah Linux Mint. Saya milih distro itu karena menonton video tentang Linux Mint di YouTube dan menyimpulkan bahwa Linux Mint itu mudah, seperti windows, dan gampang dikostumisasi tampilannya. Kita bisa gonta-ganti tema yang bagus-bagus dengan mudah. Berbeda dengan Pop OS, di mana temanya cuma dark mode dan light mode doang. 


Sayangnya, ketika saya jalankan Linux Mint di laptop saya, ternyata wifi dan bluetooth-nya nggak nyambung, guys. Seharusnya aku bisa install driver dengan cara cari tutorial di YouTube. Tapi aku lupa apakah aku sudah coba lakukan itu atau belum, tapi akhirnya aku memutuskan untuk install distro saya sebelumnya, yaitu PopOs!. Aku pilih distro itu lagi karena dulu wifi dan bluetooth saya bisa langsung nyambung tanpa install driver. Selain itu aku sudah terbiasa pakai distro itu. 


Tapi, sayangnya aku nggak bisa ngatur partisi lagi, guys. Dan aku juga nggak bisa bikin dual boot. Sejak awal aku sudah tahu itu. Aku bisa saja minta tukang servis buat benerin Linux mint saya biar bisa nyambung wifi, biar aku masih bisa dual boot. Tapi tekadku sudah bulat. Aku sudah yakin untuk meninggalkan Windows sepenuhnya.


  1. Kelebihan Linux.


Apa sih kelebihan dari Linux, sampai aku betah dan langgeng selama 5 tahun? Ada beberapa kelebihan, yang pertama adalah ini bukan Windows. 


Emangnya Windows itu jelek? Nggak jelek-jelek amat, sih. Tapi ada beberapa kekurangan Windows yang menjadi perhatian saya. Contohnya adalah update. Kita semua pasti tahu kalau update Windows itu menyebalkan sekali. Mungkin itu bisa dinonaktifkan atau di-setting biar tidak menyebalkan. Atau mungkin sekarang Windows 11 sudah tidak menyebalkan seperti dulu. Aku sudah lama nggak pakai Windows, jadi aku tidak tahu. 


Alasan kedua adalah Windows itu banyak bloatware dan iklannya. Tentu itu bisa dihilangkan, tapi tetap saja merepotkan. 


Alasan ketiga adalah Windows itu berbayar. Sebenarnya, bagi kebanyakan orang ini bukan masalah besar, karena kita bisa pakai Windows secara gratis dengan cara crack, biasanya tukang servis komputer atau laptop tahu caranya, atau bisa pakai windows key yang didapat dari toko online. Btw, aku curiga windows key yang dijual di toko online itu nggak resmi, soalnya harganya murah banget. Tapi masih bisa dipakai. Entahlah. 


Dan seandainya kamu nggak mau mengaktifkan Windows-mu, kamu masih bisa pakai komputermu seperti biasa. Tapi ada tulisan activate windows di kanan bawah, dan kamu nggak bisa ganti wallpaper. Dan ada juga fitur yang nggak tersedia sebelum kamu aktifkan windows-mu. Selain itu, kamu bisa menggunakan windows seperti biasa tanpa harus aktivasi. Jadi, bisa dibilang, windows itu juga gratis dalam batasan. 


Kalau Linux itu gratis. Bukan cuma gratis, tapi juga open source. 


Kelebihan selanjutnya adalah Linux terasa lebih ringan. Mungkin ini cuma perasaanku saja, tapi rasanya memang begitu. Dulu pas pertama coba pakai linux, aku pakai hard disk lawas, dan rasanya lebih ringan dari windows. Apalagi sekarang aku pakai SSD, jadi jauh lebih kencang. 


Selain itu, semenjak aku pakai Linux, laptopku jadi makin jarang crash macet. Tapi bukan berarti nggak pernah, lo ya. Sebenarnya sekarang pernah macet juga, tapi tidak sesering dulu. Biasanya aplikasi yang sering macet itu google chrome. Itu doang. Tapi pas pakai windows dulu, hampir semua aplikasi rawan macet. Apalagi aplikasi desain seperti corelDraw, photoshop, atau aplikasi video editor premiere pro. Sekarang sih aku nggak pakai aplikasi-aplikasi itu lagi, karena di Linux tidak ada. Aku pakai aplikasi alternatif lain yang mungkin lebih ringan, makanya lebih jarang crash. Bisa jadi lo ya.


Bisa juga masalah sering crash ini terjadi karena laptopku itu sudah tua dan spesifikasinya agak rendah. Laptop ini dibeli sekitar 8 tahun yang lalu. Tapi masih saya pakai sampai sekarang karena semenjak pakai Linux, laptop ini terasa makin ringan. Selain itu aku belum punya punya duit buat beli penggantinya, sih. Semoga sebentar lagi aku bisa beli komputer baru. 


Kelebihan selanjutnya adalah Linux itu fleksibel. Fleksibel dalam arti kamu bisa mengaturnya dengan leluasa, baik dari segi tampilan atau yang lainnya. Beberapa distro seperti Linux Mint punya tema yang bisa kamu atur-atur sendiri atau pakai tema yang sudah ada. Kamu juga bisa pilih berbagai macam distro yang punya tampilan yang berbeda-beda. Ada yang mirip windows, ada yang mirip mac OS, ada juga yang nggak mirip keduanya. Ada distro yang cocok buat gaming, ada distro yang ringan banget, ada yang cocok buat pemula, ada yang tidak cocok buat pemula. 


  1. Kekurangan Linux.


Sekarang, mari kita bahas kekurangan-kekurangan Linux. 


Yang pertama adalah beberapa software Windows yang nggak bisa berjalan di Linux. Misalnya adalah corelDraw dan semua software adobe. Jadi, semenjak pakai Linux, aku nggak bisa menjalankan aplikasi photoshop, premiere pro, lightroom, audition, dan lain-lain. Awalnya ini menjadi tantangan, tapi akhirnya aku terbiasa menggunakan aplikasi lain yang bisa berjalan di Linux. Nanti saya akan menunjukkan aplikasi apa saja yang aku pakai di Linux. Aplikasi-aplikasi alternatif ini memang berbeda, jadi perlu belajar biar bisa terbiasa menggunakannya. Untungnya, banyak tutorial yang bisa kita temukan di YouTube. 


Kekurangan selanjutnya adalah kompatibilitas perangkat keras. Sebenarnya, hardware yang aku gunakan di laptopku dapat disambungkan dengan lancar. Baik itu mouse, keyboard, pen tablet, printer, hard disk eksternal, dan lain-lain. Bahkan, pen tablet saya, wacom intuos, bisa nyambung tanpa perlu install driver. Dan kita bisa mengatur tombol dan settingan lain pada pengaturan. Tinggal colok, bisa langsung dipakai. 


Begitu juga dengan printer. Aku bisa langsung colok printernya pakai kabel USB, dan aku bisa langsung pakai printernya tanpa install driver. Aku bisa cetak pakai printer saya. Gampang banget, kan? Iya. Itu kalau aku pakai kertas HVS atau kertas biasa. Tapi kalau aku mau pakai jenis kertas glossy atau kertas foto, beda lagi ceritanya.


Masalahnya, printer saya, Canon Pixma G3010 dan HP Ink Tank menggunakan tinta pigment untuk warna hitamnya. Tinta ini cocok untuk kertas HVS saja, karena tahan air dan melekat dengan baik. Tapi tinta ini tidak cocok dengan kertas glossy atau kertas foto. Kalau kita cetak pakai tinta ini di kertas glossy, maka tidak bisa menempel.


Solusinya, kita bisa atur settingan printernya menjadi kertas glossy atau kertas foto, maka nanti tinta hitam tidak dipakai. Warna hitam bakal didapat dari campuran tinta cyan, magenta, dan yellow. 


Selain itu, dengan mengganti pengaturannya menjadi kertas glossy atau kertas foto, kualitasnya bakal jauh lebih bagus dan proses cetaknya bakal lebih lama.


Sebenarnya, di Linux, kita bisa atur jenis kertasnya menjadi kertas glossy atau kertas foto. Tapi, hasilnya bakal agak kehijauan. Tidak seperti foto aslinya. 


Solusi yang aku gunakan adalah tetap mengatur kertasnya menjadi plain paper, tapi atur jenis tintanya menjadi CMY. Dengan begitu, tinta hitam tidak digunakan. Tapi, kekurangannya adalah kualitasnya tidak terlalu bagus. Proses cetaknya juga cepat. 


Kalau kamu tahu solusi yang lebih bagus, kamu bisa kasih tahu saya di kolom komentar. 


Mungkin masalah ini karena tidak ada driver resmi yang mendukung komputer Linux. Setahu saya begitu. Mungkin bukan cuma printer saja yang punya masalah serupa. Mungkin ada perangkat lain yang butuh driver resmi yang susah buat disambungkan ke komputer Linux. 


Kekurangan lainnya adalah gaming. Memang benar, gaming di Linux mengalami kemajuan. Sekarang, dengan adanya proton, kita bisa menjalankan game-game windows dengan performa yang serupa, kadang sedikit lebih jelek, atau kadang malah lebih lancar dari windows. Dan saya sangat senang dengan kemajuan ini. Teknologi ini juga yang memungkinkan Steam Deck, konsol handheld yang juga berjalan di sistem operasi Linux, dapat menjalankan banyak game windows.


Sayangnya ini masih belum sempurna. Masih ada banyak game populer yang tidak bisa berjalan di Linux, utamanya adalah game multiplayer yang memanfaatkan fitur anti cheat. Jadi, anti cheat itu gunanya untuk mencegah tindak kecurangan dalam video game. Aku nggak terlalu paham kenapa, anti cheat ini tidak didukung di Linux. Mungkin pengguna Linux bakal lebih mudah bertindak curang, bisa jadi. 


Walau begitu, saya senang dengan pengalaman saya bermain game di Linux, karena game-game yang saya mainkan memang game ringan dan bukan multiplayer. Alasannya adalah laptop saya ini kurang mumpuni untuk menjalankan game berat. 




  1. Software yang aku gunakan di Linux.


Sekarang, aku mau menunjukkan software apa saja yang saya gunakan di Linux. Tadi aku sudah bilang kalau beberapa software tidak bisa berjalan di Linux, jadi sekarang saya akan tunjukkan alternatifnya. 


  1. INKSCAPE

Yang pertama adalah software pengoah gambar vektor. Di windows dulu, aku pakai CorelDraw. Dulu aku pakai CorelDraw karena ini adalah software yang saya pelajari di sekolah. Tidak bohong, sekolah saya dulu menggunakan software bajakan, bahkan di sana saya diajarkan cara crack CorelDraw biar bisa digunakan tanpa harus bayar. Maka saya gunakan deh ilmu membajak software itu setelah lulu. Jadi aku pakai aplikasi CorelDraw bajakan. Sampai akhirnya saya sadar kalau itu tidak benar. Maka saya pindah ke linux dan mencari alternatif software pengolah gambar vektor lain. Dan ketemulah Inkscape. 


Inkscape adalah software gratis dan open source yang bisa menjadi alternatif untuk corelDraw. Bahkan tampilannya pun mirip. Kita juga bisa mengatur shortcut-nya biar mirip CorelDraw juga. Mungkin kita masih perlu belajar biar terbiasa menggunakan software ini. 


Saya pakai software ini untuk keperluan desain grafis, edit gambar, bikin thumbnail youtube, dan percetakan. Jadi software ini cukup untuk keperluan saya.


Tapi ada kekurangannya, yaitu dia tidak bisa menggunakan warna CMYK. Padahal itu penting untuk keperluan percetakan. CMYK adalah warna tinta dalam printer. Jadi, biasanya warna yang ditampilkan software ini bakal tidak akurat kalau dicetak. 


Sebenarnya saya tidak terlalu masalah dengan kekurangan ini. Saya lebih sering cetak foto yang warnanya RGB, dan hasilnya cukup akurat. Selain itu, saya juga lebih sering cetak dokumen dan foto hitam putih, jadi ini bukan masalah. 


Alternatif aplikasi desain grafis lain yang bisa berjalan di Linux adalah Canva. Kita bisa menjalankan aplikasi ini di browser. Canva itu aplikasi yang populer sekali. Selain itu, Canva juga mudah untuk dipelajari. Banyak sekali template yang tersedia di Canva. 


Tapi, ada beberapa kekurangan dari aplikasi ini. Yang pertama adalah, karena ini aplikasi browser, kamu perlu internet buat menjalankannya. 


Yang kedua adalah, walau ini aplikasi gratis, tapi ada fitur yang hanya tersedia di akun premium. 


Yang ketiga adalah fitur menggambarnya sangat terbatas, jadi kamu bisa menggunakan elemen yang tersedia, atau menggambar di software lain. 


Aplikasi desain grafis lain yang bisa jadi alternatif adalah Figma. Saya kurang tahu tentang aplikasi ini, tapi setahu saya, ini juga aplikasi web yang sangat populer. Dia punya fitur menggambar berbasis vektor yang lebih lengkap dan cocok untuk dijadikan pengganti CorelDraw. Dan Figma juga mendukung warna CMYK, jadi bisa juga dipakai untuk keperluan percetakan. 


  1. POTOPEA

Selanjutnya adalah alternatif photoshop. Dulu saya juga belajar photoshop di sekolah, jadi saya terbiasa menggunakan aplikasi pengolah gambar dan foto bitmap ini. Semenjak pindah ke linux, aku mencari alternatif aplikasi lain yang punya fungsi yang sama. 


Aplikasi yang saya pilih untuk menggantikan Photoshop adalah Photopea. Saya pilih ini karena dia mirip sekali dengan photoshop. Jadi bakal mudah sekali kalau kamu sudah terbiasa pakai photoshop. 


Photopea ini merupakan aplikasi web, jadi kita bisa menjalankannya di browser. Karena itu, aplikasi ini juga bisa berjalan di HP dan tablet. 


Kekurangannya adalah fitur photopea tidak selengkap photoshop, tapi saya tidak keberatan. Karena semua keperluan saya tersedia di Photopea. Dan saya yakin kebanyakan pengguna photoshop juga bakal senang menggunakan Photopea.


Kekurangan selanjutnya adalah Photopea ada iklannya. Sebenarnya ini wajar karena ini adalah aplikasi yang gratis, dan iklannya tidak terlalu mengganggu. Tapi kalau kamu mau hilangkan iklannya, kamu bisa bayar. 


Aplikasi lain yang bisa kamu gunakan sebagai pengganti Photoshop adalah GIMP. Saya tidak pakai Gimp karena dia punya tampilan dan fitur yang berbeda dengan Photoshop. Jadi, menurut saya aplikasi ini susah untuk dipelajari orang yang sudah terbiasa dengan Photoshop. Walau begitu, saya yakin aplikasi ini bisa menggantikan Photoshop kalau kamu mau mempelajarinya. 


C. VIDEO EDITOR

Adobe Premiere Pro adalah software yang dulunya aku pakai untuk mengedit video. Saya pilih software ini karena ini yang paling populer saat itu, dan mungkin sekarang masih populer. Saya sudah menggunakan software ini sejak sekolah di SMK. Sebenarnya, dulu aku juga pernah pakai Edius di sekolah. Edius juga saya pakai ketika menjalani Prakerin di salah satu stasiun TV lokal di kota saya. 


Saya rasa Premiere Pro itu cukup mudah untuk dipelajari, dan fiturnya lumayan lengkap. Mungkin kekurangannya adalah software ini terasa berat di laptop saya yang kentang. 


Makanya, setelah saya pindah ke sistem operasi Linux, saya mencari alternatif lain yang ringan dan mudah untuk dipelajari. Saya sempat mencoba KDEnlive, software pengolah video yang gratis dan open source. Yang saya suka dari software ini adalah, dia cukup mirip dengan Premiere Pro, jadi bakal mudah untuk mempelajarinya. Mungkin fiturya tidak selengkap Premiere Pro, tapi cukup buat keperluan saya. 


Tapi, akhirnya saya memutuskan buat pindah ke video editor lain. Saya lupa alasannya pastinya apa, tapi aku menemukan software yang lebih saya sukai untuk mengedit video. Software itu adalah blender.


Betul, blender yang itu. Blender yang kita kenal sebagai software 3D. Yang mungkin belum kamu tahu adalah, blender juga punya fitur untuk mengedit video. 


Saya suka menggunakan blender untuk mengedit video karena blender itu ringan sekali. Dengan blender, aku bisa mengedit video di laptop kentang saya dengan lancar. Mungkin salah satu alasannya adalah blender punya fitur proxy video dan menjalankan video dengan resolusi setengah atau seperempat dari resolusi aslinya. Saya tahu fitur ini juga ada di aplikasi lain seperti Premiere Pro, tapi tetap saja, blender lebih lancar di laptop saya. 


Selain itu, saya juga suka video editor di blender karena ada add-ons yang memungkinkan kita buat memotong-motong video dengan cepat dan memutar playhead 2 kali lebih cepat. Jadi dengan begitu, kita bisa mengedit dengan lebih praktis dan cepat. Add-on itu namanya power sequencer, dan itu gratis juga. 


Kekurangan dari video editor di blender adalah fiturnya kurang lengkap kalau dibandingkan dengan video editor lain. Misanya, di blender tidak ada fitur stabilizer. Pilihan transisinya juga terbatas, dan untuk mengatur transisinya juga susah kalau kamu belum pernah pakai blender. 


Tapi, karena blender dikenal sebagai software animasi, fitur animasi untuk video editornya lebih canggih dibandingkan dengan software video editor yang lain. Mungkin itu malah bikin blender terlihat lebih membingungkan dengan fitur-fiturnya yang ribet, tapi kalau kamu terbiasa pakai blender, kamu pasti bakal suka. 


Kekurangan lain adalah terbatasnya fitur audio. Jadi, kalau mau mengedit audionya, biasanya aku pakai software yang lain.


Sebenarnya ada video editor lain yang bisa berjalan di Linux. Yang paling terkenal adalah Davinci Resolve. Ini adalah video editor yang banyak dipakai oleh profesional karena punya fitur color grading yang lengkap dan canggih. Dan ada versi gratisnya juga. 


Tapi saya tidak pakai software ini karena susah untuk diinstall di Linux dan laptop saya tidak cukup kuat untuk menjalankannya.


D. Pengedit Audio

Dulu aku menggunakan Adobe Audition untuk mengedit audio. Sebenarnya, kebutuhan saya untuk mengedit audio tidak banyak. Aku biasanya cuma memperbaiki suara biar bagus, menghilangkan noise, mengatur volume, dan kadang mengubah pitch. Dan sekarang aku menggunakan Audacity untuk mengedit audio. Saya rasa, software ini cukup untuk keperluan saya. Sebagai software pengedit audio, Audacity punya banyak fitur yang berguna, tapi banyak yang tidak aku pahami karena aku memang kurang paham mengenai audio. 


Yang tidak saya suka dari audacity adalah tampilannya yang terlihat jadul. Selain itu, software ini terlihat rumit dan susah untuk dipelajari. Tapi kalau kebutuhanmu dalam mengedit audio itu tidak banyak, kamu bakal mudah dalam menggunakannya.


Nantinya, audacity bakal update dengan tampilan yang lebih modern sehingga mudah untuk dipelajari dan fitur yang makin lengkap. Jadi, kita tunggu saja. Seharusnya tidak lama lagi. Mungkin pas kamu nonton ini, audacity versi yang baru sudah tersedia.


E. Animasi 2D

Di SMK dulu, aku belajar animasi 2D menggunakan Adobe Flash yang kemudian berganti nama menjadi Adobe Animate. Itu adalah software animasi 2D yang populer dan mudah untuk dipelajari. Dengan Adobe Animate, kita dapat membuat animasi frame by frame atau animasi 2D dengan rig. Fitur simbol membuat aplikasi ini menjadi mudah. 


Selain itu, adobe animate juga dikenal sebagai game engine. Kita bisa bikin game flash dengan actionscript. Dulu kamu mungkin sudah pernah memainkan game flash di browser. 


Dulu saya pernah membuat beberapa tutorial animasi 2D dan media interaktif menggunakan Adobe Animate. Dan mungkin kamu mengenal channel ini dari video tutorial Adobe Animate saya dulu. Saya memang suka menggunakan aplikasi ini karena mudah dan sederhana.


Tapi setelah pindah ke Linux, aku harus nyari alternatif lain untuk bikin animasi 2D. Dan pilihan saya jatuh pada Blender. Betul, blender lagi, blender lagi. 


Kita memang mengenal blender sebagai aplikasi 3D. Dan tadi aku sudah menyebutkan kalau dia juga bisa dipakai buat mengedit video. Ternyata bukan cuma itu saja, blender juga bisa kita pakai buat bikin animasi 2D, karena blender punya fitur grease pencil. Grease Pencil adalah objek di blender semacam gambar vektor. Sebenarnya kalau kita zoom, objek grease pencil itu terdiri dari titik-titik yang saling terhubung membentuk garis. Jadi mirip seperti objek 3D di blender. Tapi, grease pencil ini utamanya dipakai untuk bikin gambar dan animasi 2D. Kita bisa bikin animasi frame by frame pakai tablet dan pen, atau kita juga bisa membuat rig untuk dianimasikan. Jadi, grease pencil itu fleksibel sekali. Banyak sekali fitur canggih yang bisa kamu pakai di blender.


Bahkan, blender grease pencil juga pernah digunakan untuk bikin film netflix berjudul I Lost My Body. Itu adalah film bagus sekali. Sangat recommended. 


Kekurangan dari blender untuk membuat animasi 2D adalah kesulitannya. Karena banyaknya fitur dan tampilannya yang menakutkan, mungkin kamu jadi enggan untuk mempelajarinya. Dan blender memang lebih susah buat dipelajari daripada Adobe Animate. Tapi, sekarang sudah banyak tutorial di YouTube tentang blender grease pencil yang bisa kamu pelajari, baik animasi frame by frame atau animasi rig. 


Kabar baiknya, nantinya blender bakal punya tampilan khusus tablet. Jadi, blender versi iPad dan mungkin tablet android sedang dikembangkan. Dan versi tabletnya akan punya tampilan yang disesuaikan untuk layar sentuh jari dan pen. Semoga saja nantinya bakal lebih mudah.


E. EDITOR FOTO

Adobe Lightroom adalah software pengolah foto RAW yang sangat populer. Sejujurnya, saya tidak pernah menggunakan Adobe Lightroom versi desktop, saya hanya menggunakan versi mobile. 


Baru ketika saya pindah ke Linux, saya tertarik untuk belajar mengedit foto RAW. Akhirnya saya memilih RawTherapee untuk mengedit foto-foto saya. Saya memilih software ini karena ringan sekali. Banyak sekali modul yang bisa saya gunakan untuk mengedit foto. Salah satu fitur yang saya suka adalah film simulation. Dengan fitur ini, kita bisa meniru tampilan foto yang diambil menggunakan film. Sebenarnya ini cuma LUT, tapi tersedia banyak sekali pilihan film yang bisa ditiru, mulai dari kodak, fujifilm, agfa, polaroid, dan ilford. Kamu bisa menonton tutorialnya di sini.


Kekurangan dari software ini adalah penggunaan fitur-fiturnya sedikit berbeda dengan Adobe Lightroom. Jadi mungkin kamu bakal perlu belajar dulu biar paham. Tapi sebenarnya ini adalah aplikasi yang mudah, kok. 


Kekurangan yang lain adalah software ini tidak punya fitur mask. Padahal itu adalah fitur yang penting untuk mengedit area tertentu pada foto. Sebenarnya ada fitur local adjustment yang memungkinkan kita mengedit bagian tertentu saja, tapi itu sangat terbatas kalau dibandingkan dengan fitur mask di Adobe Lightroom. 


Ada software pengedit foto RAW lain yang juga gratis dan open source, namanya adalah Darktable. Ini adalah software yang lebih canggih karena punya fitur mask dan punya modul yang banyak sekali, mungkin lebih lengkap dari Adobe Lightroom. Tapi aku tidak pakai Darktable karena cukup berat dan susah untuk dipelajari. 


F. PENGOLAH DOKUMEN

Microsoft Office Word, Excel, dan Power Point adalah software pengolah dokumen yang kita pelajari di sekolah. Saya juga butuh software ini untuk mengetik dokumen seperti narasi youtube, cerita pendek, novel, dan lain-lain. 


Ada beberapa pilihan alternatif microsoft office yang tersedia di linux. Mungkin yang paling populer adalah libreoffice. Ini adalah software yang gratis dan open source. Kelebihannya adalah kita bisa bikin tampilannya mirip seperti microsoft office. Selain itu, fitur-fiturnya juga lengkap. Sebagai software pengolah dokumen, dia mudah sekali untuk dipelajari. Tapi aku tidak selalu pakai libreoffice. Alasannya adalah karena aku lebih suka pakai google docs. 


G. Adobe After Effects


Sekarang banyak sekali orang yang ingin meninggalkan software-software Adobe dengan berbagai alasan. Tapi kebanyakan dari mereka enggan untuk pindah karena ada software yang mereka kira tidak bisa digantikan. Software itu adalah Adobe After Effects. 


After Effects adalah software yang biasa digunakan untuk compositing, visual effects, bikin motion graphics, dan animasi dua dimensi. 


Sebenarnya ada alternatifnya, yaitu Blender. Betul, blender lagi, blender lagi. Tapi, blender memang punya fitur yang lengkap untuk menggantikan After Effects. Di blender ada compositor yang bisa digunakan untuk visual effects dan color grading pada video. Ada juga fitur camera tracking. Kalau mau bikin motion graphics pakai blender juga bisa, sudah banyak tutorialnya di YouTube. Animasi 2 dimensi? Juga bisa dong. Bahkan, animasi 2 dimensi dan 3 dimensi dari game kurzgesagt berjudul star birds juga dibikin pakai blender.


Jadi, blender adalah software yang sangat matang dan siap untuk menggantikan Adobe After Effects. Tapi yang belum siap mungkin kamu. Karena penggunaan blender itu agak berbeda dengan After Effects, dan kamu perlu mempelajarinya sebelum pindah dari After Effects. Salah satu perbedaannya adalah compositor-nya. After Effects itu berbasis layer, seperti photoshop. Sementara Blender itu berbasis node. Bisa dibilang, node itu lebih canggih dan fleksibel. Tapi lebih susah untuk dipelajari.


Terus, apakah ada software lain yang seperti After Effects, gratis, bisa berjalan di Linux, dan bukan blender? Ada dong. Namanya adalah friction. Ini adalah software yang masih baru, jadi tutorialnya masih belum banyak. Walau begitu, aplikasi ini berpotensi untuk jadi alternatif After Effects.  


  1. Apakah tetap menggunakan Linux?

Terus, apakah saya bakal tetap pakai Linux? Saya merasa menggunakan Linux sebagai sistem operasi laptop itu punya tantangan tersendiri. Banyak kendala yang seharusnya tidak ada di Windows, misalnya kompatibilitas hardware dan software. Tapi saya memutuskan untuk tetap menggunakan Linux, bahkan kalau nantinya saya bakal beli komputer baru. Mungkin saya bakal dual boot dengan windows, tapi saya enggan untuk meninggalkan Linux.


Alasannya adalah karena Linux terasa lebih ringan, bersih dari bloatware, dan saya sudah terbiasa menggunakannya. Selain itu, laptop saya bakal terlihat berbeda dari laptop biasa. Orang mungkin bakal bertanya kenapa laptop saya tampilannya begini, dan itu keren. 

2

  1. Apakah sebaiknya kamu mencoba Linux?


Dari video ini, mungkin kamu bakal tertarik untuk menggunakan Linux, tapi apa sebaiknya kamu mencoba? Menggunakan Linux memang punya kelebihan tersendiri, tapi kamu perlu pertimbangkan juga kekurangannya. Mungkin kekurangan yang paling perlu diperhatikan adalah kompatibilitas software. Jadi, kalau kamu terbiasa menggunakan software yang tidak ada di Linux, kamu bakal kesulitan untuk pindah. Kalau pekerjaanmu bergantung pada software tersebut dan tidak bisa ganti alternatifnya karena rekan kerja dan teman-temanmu mewajibkanmu buat pakai software itu, berarti kamu memang harus tetap di windows. Sebenarnya kamu masih bisa dual boot, artinya komputermu bisa menjalankan windows atau linux. 


  1. Tips pindah ke linux.

Tapi kalau kamu beneran mau pindah ke Linux, aku punya tips yang mungkin bisa membantumu pindah dari windows ke Linux.


  1. Yang pertama adalah, sebelum pindah, ketahui dulu software apa saja yang bakal menjadi alternatif. Misalnya, tadinya kamu pakai Premiere Pro untuk mengedit video, kemudian kamu perlu mencoba beberapa software video editor lain yang bisa berjalan di Linux. Kamu bisa coba blender, kdenlive, davinci resolve, atau yang lain. Kamu juga perlu coba software pengedit foto, pengolah dokumen, atau apa saja yang menjadi alternatif software yang biasa kamu gunakan. Kalau sudah, kamu perlu pelajari sampai merasa nyaman. Kalau sudah, kamu bisa pindah ke Linux dengan lebih siap karena sudah terbiasa dengan software alternatifnya. 

  2. Tips yang kedua adalah pilih distro linux yang cocok untuk pemula. Kamu bisa cari referensi di Youtube. Ada banyak distro yang cocok untuk pemula, misalnya, Linux Mint, Ubuntu, PopOs, Fedora, dan lain-lain. 

  3. Kalau kamu menghadapi masalah, kamu bisa tanyakan ke ChatGPT. Kamu bisa jelaskan apa masalahmu, atau kamu juga bisa mengirim screenshot kendala yang kamu alami. Nanti kamu bakal diberi solusi untuk menyelesaikan masalahmu. Tapi kalau solusimu gagal, kamu bisa coba tips keempat.

  4. Kamu bisa gabung grup Linux di facebook. Di sana kamu bisa sharing dan bertanya tentang kendala yang kamu alami. Seharusnya kamu bakal dapat solusi dari orang-orang yang lebih paham tentang Linux. 

Comments

Popular Posts