Review cerpen karya E. M. Forster yang berjudul Mesinnya Berhenti

 


 

Kalau kamu suka novel 1984 karya George Orwell, atau kalau kamu suka series Black Mirror, kamu pasti juga bakal suka dengan cerpen berjudul The Machine Stops, karya E. M. Forster. Betul, dia juga yang nulis novel BL jadul berjudul Maurice. Tapi aku nggak mau bahas yang itu sekarang.

Cerpen ini ditulis lebih dari seabad yang lalu, tapi masih relevan dengan kehidupan modern. Loh, kok bisa? 

Dalam cerpen ini, E. M. Forster memprediksi bagaimana di masa depan, manusia bakal sangat tergantung dengan teknologi. Emangnya, ceritanya tentang apa, sih?

Jadi, cerpen ini menceritakan kehidupan manusia di masa depan, ketika mereka tidak tinggal di permukaan bumi, melainkan hidup di kamar-kamar bawah tanah yang sepenuhnya dikendalikan oleh sebuah sistem raksasa bernama mesin. Mesin ini menyediakan segala kebutuhan, mulai dari makanan, udara, hiburan, dan sarana komunikasi. 

Jadi, di zaman itu, manusia jarang saling bertemu langsung, bahkan hampir tidak pernah. Semua komunikasi dilakukan lewat layar. Ala-ala videocall gitu. Bahkan cerpen ini juga memprediksi kuliah online. Pokoknya manusia digambarkan sangat bergantung dengan mesin. Kan? Sangat black mirror kan? 

Karena sangat bergantung pada mesin, manusia mulai mengagung-agungkan mesin, seperti jadi agama baru. Semua patuh pada mesin. Manusia hidup di bawah kendali mesin yang menentukan semua aspek kehidupan. Mirip seperti kendali Partai di novel 1984. Membaca cerpen ini, akan membuat kita mempertanyakan kebebasan individu. 

Gimana? Tertarik buat baca? Kalau belum tertarik, aku mau bilang kalau cerpen ini ada Indonesia, coy!

Kalau kamu tertarik, kamu bisa temukan cerpen ini di Google play books, atau kamu juga bisa menemukan e-booknya di aplikasi storytel. Cerpen ini juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan bersama tiga cerpen sci-fi lain dalam buku berjudul Kisah Tentang Gravitasi Negatif. 



Comments

Popular Posts