Review Film Suzzana Malam Satu Suro
Menonton film horor adalah salah satu hiburan yang menyenangkan bagi saya. Ada sensasi yang bikin kita merasa ngeri dan ketakutan. Tentunya itu adalah yang kita cari di sebuah film horor. Lantas, apakah film horor Suzzanna yang judulnya Malam Satu Suro ini berhasil bikin saya takut? Apakah film ini masih relevan buat ditonton sekarang?
Kita semua pasti tahu kalau Suzzana adalah aktris yang dikenal sebagai ratu horor Indonesia. Itu karena banyak film horror terkenal yang dibintangi. Salah satu yang terkenal adalah Malam Satu Suro. Saya baru nonton film itu tadi malam. Dan saya akan membagikan pengalaman saya menonton film itu.
Karena saya menonton film versi hasil restorasi, pastinya gambarnya jernih banget dong. Kalau kamu males nonton film jaman dulu karena gambarnya jelek, kamu harus tau kalau film ini sudah direstorasi. Gambarnya itu tidak seperti film jadul Indonesia yang kita tonton di televisi. Pokoknya gambarnya itu jernih banget. Seperti film yang disyuting kemarin sore. Kalau nggak percaya, lihat dulu screenshot ini. Btw, saya nonton film ini di disney plus.
Soal sinematografi, film ini nggak bisa diremehkan. Cukup sinematik dengan lensa anamorphic. Saya percaya film ini pakai lensa anamorphic karena aspek rasionya lebar dan ada distorsi di pinggir frame. Dan sesekali saya melihat flare khas lensa anamorphic.
Banyak shot yang ada di film ini diambil dengan keputusan yang termotivasi. Misalnya ada handheld shot sebagai point of view si sundel bolong masuk ke rumah. Dan itu cukup bikin merinding sih.
Banyak shot cantik di film ini. Suasana horor malam hari disertai kabut putih yang nggak realistis karena lebih mirip asap daripada kabut. Tapi berhasil menciptakan suasana angker. Film horor memang sering menggunakan asap buat bikin suasana mencekam. Kalau nggak salah film Evil Dead juga pakai asap. Mungkin itu dry ice.
Adegan pernikahan si Suketi di tengah hutan terasa sangat surreal karena kita tidak pernah melihat pernikahan macam itu. Sebuah pernikahan yang seperti dalam mimpi.
Burung hantu bertengger di pohon pada malam hari. Entah gimana caranya nyuruh burung itu tetap di sana dan nggak terbang ke mana-mana.
Yang asyik dari menonton film jadul adalah kita seperti bertamasya ke masa lalu. Kita bisa menikmati suasana di zaman dulu itu seperti apa. Budaya di zaman dulu itu seperti apa. Kendaraan dan arsitektur zaman dulu itu seperti apa. Seakan itu membangkitkan nostalgia yang sebenarnya tidak pernah ada karena saya tidak hidup di zaman itu.
Film horor ini punya juga punya soundtrack loh. Dan saya kagum dengan penempatan soundtrack-nya. Lagu Selamat Malam dinyanyikan sundel bolong sambil main piano. Sundel bolong nyanyi sambil main piano, guys. Aku nggak tahu reaksi kamu nanti ketika nonton adegan itu akan gimana. Apakah akan ngeri atau malah geli. Tapi ketika nonton sundel bolong main piano itu rasanya seperti aneh dan lucu. Lihat dandanan hantunya seperti itu. Mana suaranya bagus lagi. Yang nyanyi Vina Panduwinata.
Oke. Gambarnya bagus. Lalu bagaimana dengan ceritanya? Ceritanya si Suketi yang diperankan oleh Suzanna adalah sundel bolong yang dihidupkan kembali dan dijadikan anak oleh sepasang suami istri yang hidup di hutan. Kemudian si Suketi menikah dengan orang kota. Suatu hari rumahnya didatangi penjahat dan Suketi jadi sundel bolong lagi. Dia mau balas dendam deh. Film Suzzana memang plotnya nggak jauh-jauh dari balas dendam. Atau film Indonesia jaman dulu emang gitu ya?
Film ini juga mengandung unsur komedi. Ada adegan kuntilanak gentayangan yang dibikin lucu. Jadi menurut saya film ini tidak terlalu berusaha menakut-nakuti penontonnya. Unsur komedi yang dimasukkan di sini menjadikan filmnya lebih menghibur. Saya nggak terlalu terbahak-bahak menonton adegan komedinya. Tapi saya terhibur.
Kalau kamu lebih suka film yang genrenya murni horor, mungkin film ini bukan yang kamu cari. Kamu bisa nonton film Suzanna yang lain seperti Ratu Ilmu Hitam. Eh. Ratu Ilmu Hitam itu ada komedinya nggak ya? Aku juga lupa. Yang jelas film Ratu Ilmu Hitam itu lebih gore, lebih sadis, lebih banyak darahnya, lebih serem pokoknya. Dulu aku nonton di Hooq. Tapi sekarang Hooq sudah nggak ada. Sebenarnya saya pengen nonton lagi. Semoga Disney plus bisa masukin film Ratu Ilmu Hitam dan film-film jadul lain yang mungkin belum pernah saya dengar sebelumnya.
Kembali ke Malam Satu Suro. Apakah saya suka dengan ceritanya? Tidak. Tapi bukan berarti saya tidak menikmati ceritanya. Yang tidak saya suka adalah ceritanya itu sudah sering digunakan dalam film horor. Dan nggak ada yang spesial dari cerita di film ini. Yang bikin saya menikmati adalah film ini tidak mencoba untuk menjadi realistis. Banyak keputusan yang menurut saya tidak masuk akal buat diambil oleh seorang karakter di dunia nyata. Misalkan si Bardo ketemu gadis di hutan. Terus langsung dilamar. Itu kan aneh banget ya buat logika zaman sekarang. Atau ketika anaknya si Bardo diculik dan pembantunya ditembak sampai mati, si Bardo masih bisa senyum. Pokoknya banyak yang seperti ini. Saya tidak keberatan dengan ini.
Saya juga tidak keberatan dengan bahasa yang digunakan dalam film ini. Mungkin banyak yang nggak suka dengan film yang dialognya diucapkan dengan bahasa yang terlalu baku dan kadang kaku. Memang benar di dunia yang kita tinggali ini nggak ada yang berbicara dengan bahasa yang baku banget dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin pada zaman dulu orang-orang bicara dengan cara seperti itu.
Bahasa yang digunakan memang tidak bikin saya keberatan. Tapi yang sedikit mengganggu adalah aktingnya. Atau tepatnya pengucapannya yang kadang terasa kaku. Seperti nonton teater anak sekolah gitu. Untungnya itu tidak sering terjadi. Dan bukan Suzzana yang melakukan itu. Karena akting Suzanna di film ini memang patut buat dihargai. Kalau bukan Suzzana yang jadi sundel bolongnya, filmnya pasti kurang asyik.
Tidak seperti film horor baru kebanyakan, film ini tidak mengandalkan jumpscares buat bikin penontonnya ketakutan. Tapi si hantunya itu yang jadi sumber ketakutannya.
Desain hantu sundel bolong di film ini menyeramkan. Rambutnya berantakan dan besar. Bajunya putih. Punggungnya bolong dipenuhi belatung. Make up-nya menor. Di bagian matanya hitam mirip Deddy Corbuzier. Serem.
Yang lebih serem, si Sundel Bolong ini punya wujud yang bermacam-macam. Dia bisa jadi tinggi banget karena kakinya jadi panjang. Dan wujud paling menyeramkan adalah wujud sundel bolong di ujung film. Make up-nya serem banget. Merinding.
Satu lagi hal yang saya suka di film ini. Special efeknya. Memang pada zaman itu belum ada cgi, ya. Jadi film ini menggunakan practical effect yang bisa dibilang meyakinkan. Walau saya tau itu nggak beneran. Misalkan ada kepala copot, kepala tertusuk benda tajam sampai tembus, dan lain-lain. Sadis pokoknya.
Jadi, sebagai film lawas, tentu film Malam Satu Suro memiliki perbedaan dengan film-film jaman sekarang. Mulai dari dialognya, editingnya, sampai logikanya juga berbeda. Tapi apakah film ini masih layak buat ditonton sekarang? Tentu saja iya. Selain karena gambarnya yang jernih, film ini dapat memberikan referensi film jadul Indonesia.

Komentar
Posting Komentar