Bikin Background Animasi di Blender
Sejujurnya aku nggak bisa gambar. Bisa, sih. Tapi jelek dan nggak konsisten.
Ketika saya berniat untuk bikin animasi dua dimensi, saya bingung mau bikin background-nya bagaimana. Aku kesulitan untuk menggambar background. Biasanya untuk background animasi 2D, kita perlu beberapa angle kamera dalam satu scene, jadi setiap angle bakal butuh gambar background sendiri-sendiri. Dan semuanya harus konsisten biar bagus. Itu yang bikin susah.
Sebenarnya aku punya ide untuk bikin background dari foto. Jadi, aku ke lokasi sungguhan, terus aku ambil kamera dan jepret beberapa foto dengan angle yang berbeda. Nanti aku bakal gunakan foto-foto ini sebagai background animasiku. Teknik ini juga digunakan di serial animasi The Amazing World of Gumball, tapi di sana fotonya masih diedit sehingga terlihat bagus. Kadang background-nya dibikin dari CGI. Serial animasi ini juga yang menginspirasi saya untuk bikin background animasi pakai foto.
Dan saya telah mencobanya. Kira-kira hasilnya begini. Saya menambahkan efek blur biar bagus, dan saya suka dengan hasilnya. Bagaimana menurutmu?
Yang saya suka dari teknik ini adalah kemudahannya. Kita tinggal datang ke lokasi, kemudian kita tinggal foto. Tentu kita masih harus memikirkan komposisi dan angle-nya biar sesuai dengan animasi yang akan kita buat. Tapi, cara ini jauh lebih mudah dibandingkan kalau kita gambar sendiri background-nya.
Walau begitu, ada kekurangan yang perlu diperhatikan kalau pakai foto sebagai background animasi.
Yang pertama adalah fleksibilitas kamera. Saya menggunakan kamera HP untuk memotret fotonya. Kamera ini punya batasan, yaitu focal length yang terlalu lebar. Tentu itu bisa diatasi dengan crop atau digital zoom. Tapi itu bakal mengurangi kualitas fotonya. Mungkin ini bukan masalah besar karena kita bisa tambahkan efek blur, dan kekurangannya bisa ditutupi. Atau kalau mau, aku bisa pakai kamera DSLR dengan lensa zoom, jadi aku bisa ambil gambar dengan lebih fleksibel.
Tapi, muncul tantangan lain yang juga perlu diperhatikan. Jadi, ketika kita bikin animasi, kita biasanya perlu siapkan storyboard atau shot list. Dengan begitu, kita bisa menentukan angle dan komposisinya. Artinya, kita jadi tahu kameranya bakal ditaruh di mana, dan kita punya bayangan, foto yang kita ambil bakal bagaimana.
Masalahnya, aku nggak tahu apakah foto yang aku ambil di lokasi bakal cocok dengan animasinya nanti. Kalau cocok, bagus dong. Tapi kalau tidak? Atau kalau fotonya kurang? Kita perlu datang lagi ke lokasi lagi buat ambil fotonya. Terus mungkin muncul masalah baru, kondisi di lokasi berubah. Itu bisa bikin adegannya tidak kontiniti.
Bukan cuma itu, masih ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu kecocokan lokasi. Ketika kita menulis cerita untuk film atau video, kita bakal membayangkan lokasi adegannya, bagaimana bentuknya, suasananya bagaimana, waktunya kapan, properti apa saja yang ada di sana, tata letaknya, dan juga pencahayaannya. Jadi, kita perlu mencari atau mengatur lokasinya biar sesuai dengan cerita yang kita buat. Dan itu jadi tantangan.
Masalah-masalah itu membuat saya terdorong untuk mengambil jalan lain, yaitu dengan CGI. Jadi, backgroundnya dibuat dari hasil render 3D yang saya buat sendiri. Dengan cara ini, saya bisa mengatur backgroundnya, mulai dari properti, warna, tata letak, pencahayaan, dan komposisinya, agar sesuai dengan cerita. Misalnya kalau aku nggak suka angle kameranya, aku bisa langsung ubah sesuai keinginan. Aku juga bisa gonta-ganti angle kamera tanpa harus menggambar ulang backgroundnya. Karena sejatinya blender adalah software 3D, saya bisa langsung menaruh animasi 2D saya di ruang 3D yang saya bangun di blender. Dengan begitu, aku bisa mengaturnya dengan lebih praktis.
Bisa dibilang, cara ini punya banyak kelebihan. Jadi, aku memutuskan buat pakai cara ini. Tapi ternyata tidak semudah itu. Buat bikin background dari CGI, kita perlu belajar tentang 3D modeling, material, lighting, compositing, dan rendering. Itu yang membuat cara ini lebih sulit dibandingkan dengan menggunakan foto atau menggambar pakai tangan.
Sebenarnya, saya sudah belajar blender, jadi saya siap dengan tantangan ini. Walau kemampuan saya masih sangat terbatas, saya pernah bikin film pendek animasi 3D yang saya buat sendiri pakai blender. Film pendek itu berjudul Menimbang-nimbang, kamu bisa tonton filmnya di Channel YouTube saya. Seluruh aset dalam film itu saya buat sendiri, mulai dari bangunan, properti, sampai karakternya. Memang tidak bagus karena semua aku bikin sendiri dan kemampuanku sangat terbatas. Tapi setidaknya aku bisa bikin.
Jadi, dengan kemampuan yang terbatas ini, aku siap buat bikin background 3D buat animasi 2D Keluarga Toto.
Tentu sebagai amatiran, aku dihadapkan dengan berbagai tantangan. Tantangan yang pertama adalah kesulitannya. Sering kali aku tidak tahu bagaimana cara melakukan sesuatu buat bikin objek 3D di blender, baik ketika melakukan modeling sampai rendering. Saya biasanya nonton tutorial YouTube atau tanya ke chatGPT. Dan dengan susah payah akhirnya aku berhasil bikin scene 3D dengan properti dan lighting yang ala kadarnya. Tapi menurutku ini cukup. Aku memang tidak berharap lebih.
Untuk rumahnya aku sengaja bikin seperti rumah di desa. Bagaimana menurutmu?
Kesulitan lain yang saya alami adalah kadang ketika scene-nya terlalu ramai, maksudnya ketika objek 3D dalam satu scene itu mulai banyak, blender jadi sangat lemot. Bahkan saya tidak di render preview. Kalau ini terjadi, saya bahkan kesulitan untuk sekadar memindahkan objek. Kadang masalah ini terjadi begitu saja, aku nggak tahu kenapa. Padahal tadinya blender berjalan lancar-lancar saja. Eh, tiba-tiba dia jadi lemot sekali. Apakah ini karena laptop saya kurang mumpuni buat bikin scene 3D seperti ini? Padahal menurut saya, scene yang saya buat tidak terlalu rumit. Objeknya memang banyak, tapi sengaja saya buat sederhana biar laptop saya bisa menjalankannya. Mungkin kalau kamu tahu solusinya, kamu bisa bantu saya dengan tulis solusinya di kolom komentar.
Jadi, buat menangani masalah ini, saya menggunakan solusi sementara yang menurut saya cukup efektif. Solusi yang pertama adalah, ketika file blender jadi lemot banget, aku copy semua aset di file yang lemot ini, kemudian aku bikin project baru, selanjutnya aku paste di project baru ini. Entah kenapa, dengan cara ini lemotnya hilang.
Tapi kadang cara ini nggak bertahan lama karena sebentar lagi blender bakal lemot lagi. Dan kalau sudah begitu, aku pilih jalan lain, yaitu animasi 2D-nya aku bikin di project yang berbeda. Jadi, aku bikin scene di mana nggak ada aset 3D buat background-nya. Yang ada cuma karakter 2D-nya saja. Dengan begini, laptop saya bisa menjalankan animasinya dengan jauh lebih lancar. Kemudian, buat background-nya, aku pisah di file blender lain. Kekurangan cara ini adalah kita tidak bisa mengatur komposisi kameranya dengan akurat karena nggak ada karakternya di scene ini. Karakternya ada di file lain. Tapi dengan cara ini, blender bisa berjalan lebih lancar di laptop saya.
Karena ini hasil render 3D, hasilnya bakal punya style yang berbeda dengan karakter animasinya. Sebenarnya kita bisa menggunakan teknik cell shading biar hasilnya seperti gambar 2D. Tapi saya sengaja biarkan 3D seperti ini karena aku belum belajar lebih lanjut tentang cell shading.
Ngomong-ngomong, saya tidak hanya menggunakan aset 3D pada background-nya. Saya juga menggunakan gambar 2D untuk beberapa asetnya. Contohnya adalah sapu, pot bunga, ceret, dan lain-lain. Gambar-gambar 2D ini saya bikin pakai inkscape, software pengolah grafis vector seperti Adobe Illustrator atau CorelDRAW. Saya pakai inkscape karena gratis, dan sebagai software vector, dia mudah dipakai menggunakan mouse.
Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah cara ini






Komentar
Posting Komentar