Apakah Kamera DSLR Lawas Masih Layak untuk Vlogging? Menguji Canon EOS 700D


Kamera DSLR dulu pernah menjadi pilihan populer untuk merekam video, mulai dari video YouTube hingga film pendek. Namun, seiring berkembangnya teknologi, kamera mirrorless, kamera aksi, dan bahkan kamera HP kini menawarkan fitur perekaman video yang semakin canggih.

Lantas, apakah kamera DSLR lawas masih layak digunakan untuk vlogging di zaman sekarang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba menggunakan Canon EOS 700D dengan lensa kit EF-S 18-55mm, sebuah kamera DSLR yang dirilis belasan tahun lalu. Saya mengujinya untuk merekam video, berjalan sambil melakukan vlogging, mencoba autofocus, serta membandingkan hasil videonya dengan kamera HP.

Hasilnya cukup menarik. Meskipun kualitas gambarnya masih bisa terlihat bagus, ada beberapa kekurangan yang membuat kamera ini terasa ketinggalan zaman untuk kebutuhan video.

1. Mengenal Canon EOS 700D sebagai Kamera Vlogging

Canon EOS 700D merupakan kamera DSLR lawas yang awalnya lebih ditujukan untuk kebutuhan fotografi. Kamera ini menggunakan sensor APS-C dan dapat dipasangi berbagai lensa Canon EF maupun EF-S.

Untuk pengujian kali ini, saya menggunakan lensa kit EF-S 18-55mm. Lensa ini cukup fleksibel karena memiliki rentang zoom yang bisa digunakan untuk berbagai situasi, mulai dari mengambil gambar dengan sudut lebar hingga memperbesar objek.

Meskipun sudah berumur belasan tahun, kamera ini sebenarnya masih mampu menghasilkan video yang terlihat bagus. Namun, fitur perekaman videonya tidak selengkap kamera modern.

Canon EOS 700D dapat merekam video dengan resolusi Full HD 1080p pada 24 fps. Kamera ini juga memiliki keterbatasan pada bitrate dan fleksibilitas pengolahan warna dibandingkan dengan perangkat yang lebih baru.

Dengan spesifikasi seperti itu, saya ingin mengetahui apakah kualitas gambar yang dihasilkan masih cukup bagus untuk video YouTube dan vlogging sehari-hari.

2. Bagaimana Kualitas Video Canon EOS 700D?

Secara umum, kualitas video Canon EOS 700D masih cukup baik untuk ditonton. Gambar yang dihasilkan bisa terlihat menarik, terutama ketika pencahayaan mendukung dan pengambilan gambarnya dilakukan dengan tepat.

Namun, ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan.

  • Resolusi terbatas: perekaman video yang saya gunakan adalah Full HD 1080p, bukan 4K.
  • Bitrate terbatas: video memiliki informasi gambar yang lebih terbatas dibandingkan dengan rekaman dari sejumlah perangkat modern.
  • Fleksibilitas editing rendah: pengolahan warna yang terlalu ekstrem dapat menimbulkan artefak kompresi.
  • Dynamic range terbatas: mempertahankan detail di area terang dan gelap sekaligus tidak selalu mudah.

Resolusi Full HD sebenarnya masih layak untuk video YouTube. Tidak semua video harus direkam dalam resolusi 4K atau lebih tinggi. Akan tetapi, pada kamera ini, hasil rekaman 1080p terkadang terlihat kurang tajam dibandingkan dengan standar yang bisa kita temukan pada kamera modern.

Dengan demikian, masalahnya bukan semata-mata soal resolusi. Bitrate, ketajaman gambar, pemrosesan video, dan kemampuan mempertahankan detail juga berpengaruh terhadap hasil akhirnya.

3. Membandingkan Video DSLR dengan Kamera HP

Salah satu bagian menarik dari pengujian ini adalah membandingkan hasil rekaman Canon EOS 700D dengan kamera HP Poco F7 yang saya gunakan.

Pada pengujian pertama, saya menggunakan aplikasi kamera bawaan HP. Bahkan dengan aplikasi tersebut, HP sudah mampu merekam video dengan resolusi dan bitrate yang lebih tinggi dibandingkan pengaturan video yang saya gunakan pada DSLR.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa kamera HP modern memiliki sejumlah keunggulan untuk perekaman video praktis. Kita bisa langsung merekam, mendapatkan hasil yang cukup baik, dan mengunggah video tanpa perlu banyak pengolahan tambahan.

Saya juga mencoba aplikasi mcpro24fps pada HP. Aplikasi ini mendukung pengaturan perekaman yang lebih fleksibel, termasuk bitrate yang lebih tinggi dan profil warna log.

Dengan profil warna log, pengolahan warna dapat dilakukan dengan lebih leluasa dibandingkan rekaman standar, selama materi video dan pengaturannya mendukung proses tersebut.

Dalam pengujian ini, saya merasa HP lebih unggul untuk urusan video karena menawarkan fitur perekaman yang lebih lengkap, bitrate lebih tinggi, dan fleksibilitas yang lebih baik untuk kebutuhan pengolahan warna.

Namun, bukan berarti kamera DSLR tidak memiliki kelebihan. Ada beberapa hal yang masih membuat DSLR menarik, terutama jika digunakan untuk fotografi.

4. Mengedit Warna Video DSLR: Neutral, Film Grain, dan Halation

Untuk pengujian video, saya menggunakan profil warna Neutral pada Canon EOS 700D. Profil ini menghasilkan gambar yang relatif lebih datar dibandingkan tampilan warna yang lebih kontras, sehingga bisa menjadi titik awal untuk proses color grading.

Saya kemudian menggunakan Blender untuk mengedit warna video tersebut. Saya menambahkan simulasi film Fujifilm Provia, efek halation, dan film grain untuk memberikan tampilan yang lebih menarik.

Namun, ada masalah yang muncul ketika video DSLR ini diolah terlalu jauh.

Karena video yang direkam memiliki kedalaman warna dan bitrate yang terbatas, perubahan kontras, warna, serta kecerahan secara berlebihan dapat memperjelas artefak kompresi. Akibatnya, gambar justru terlihat rusak atau kurang alami.

Film grain dapat membantu menyamarkan sebagian artefak tersebut secara visual. Akan tetapi, efek ini tidak benar-benar mengembalikan detail gambar yang hilang akibat keterbatasan rekaman.

Artinya, kita harus berhati-hati saat melakukan color grading. Sebaiknya, lakukan penyesuaian seperlunya agar hasil akhir tetap terlihat bersih dan alami.

5. Mencoba Profil Warna CineStyle

Selain profil Neutral, saya juga mencoba CineStyle untuk mendapatkan gambar yang lebih datar.

Profil warna datar dapat memberikan ruang penyesuaian lebih besar ketika melakukan color grading. Dengan pendekatan ini, kita bisa mencoba mengatur kontras, saturasi, serta karakter warna sesuai dengan tampilan yang diinginkan.

Pada pengujian ini, video dengan CineStyle juga digunakan untuk melihat bagaimana kamera menangani suasana sore hari atau golden hour. Cahaya matahari pada waktu tersebut bisa memberikan tampilan hangat yang menarik untuk video.

Meski begitu, profil warna yang lebih datar bukanlah solusi ajaib. Jika bitrate dan kualitas rekaman dasarnya terbatas, kemampuan kita untuk mengolah gambar tetap memiliki batas.

Jadi, meskipun CineStyle bisa membantu proses pengolahan warna, hasil akhirnya tetap bergantung pada kualitas rekaman awal dan seberapa jauh gambar tersebut diolah.

6. Magic Lantern: Menambahkan Fitur Video pada DSLR Canon Lawas

Bagi pengguna kamera Canon lawas, ada satu hal menarik yang pernah saya bahas dalam video sebelumnya, yaitu Magic Lantern.

Magic Lantern merupakan firmware tambahan untuk sejumlah kamera Canon yang kompatibel. Pada kamera tertentu, firmware ini dapat membuka fitur yang tidak tersedia pada firmware bawaan, termasuk pilihan perekaman video RAW.

Video RAW menarik karena memberikan lebih banyak fleksibilitas dalam pengolahan gambar. Dengan proses yang tepat, hasil rekaman dari kamera lama pun dapat terlihat mengesankan.

Dalam pengujian yang saya tunjukkan, video RAW dari Canon EOS 700D bahkan dapat diolah dan ditingkatkan skalanya hingga resolusi 4K dengan hasil yang tetap terlihat tajam pada contoh tertentu.

Namun, ada beberapa kekurangan yang harus diperhatikan sebelum mencoba perekaman video RAW.

  • Area gambar dapat terpotong: perekaman RAW tertentu menggunakan area sensor yang lebih kecil, sehingga sudut pandang menjadi lebih sempit.
  • Membutuhkan kartu SD yang cepat: perekaman dengan data berukuran besar membutuhkan media penyimpanan dengan kemampuan tulis yang memadai.
  • Ukuran file besar: file video RAW dapat memakan banyak ruang penyimpanan.
  • Alur kerja lebih rumit: file mungkin perlu dikonversi terlebih dahulu sebelum dapat diedit dengan nyaman di aplikasi video editor.

Karena itu, Magic Lantern bisa menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang suka bereksperimen dengan kamera Canon lawas. Namun, fitur ini bukan pilihan paling praktis bagi orang yang hanya ingin merekam video dan langsung mengeditnya.

Kompatibilitas kamera, versi firmware, dan risiko penggunaan firmware tambahan juga perlu dipertimbangkan sebelum mencobanya.

7. Kelebihan DSLR: Sensor Besar dan Background Blur yang Alami

Jika dibandingkan dengan kamera HP, salah satu kelebihan utama Canon EOS 700D adalah ukuran sensornya.

Kamera ini menggunakan sensor APS-C yang jauh lebih besar dibandingkan sensor pada kebanyakan kamera HP. Ukuran sensor bukan satu-satunya faktor penentu kualitas gambar, tetapi dapat memberikan keuntungan tertentu, terutama ketika dipadukan dengan lensa dan pengaturan yang sesuai.

Salah satu hasil yang paling menarik adalah background blur atau bokeh. Dengan memilih bukaan lensa yang sesuai, mendekatkan kamera ke subjek, dan mengatur jarak antara subjek dengan latar belakang, kita bisa menghasilkan latar belakang yang tampak buram secara optik.

Tampilan tersebut dapat memberikan kesan sinematik, terutama saat merekam wajah atau objek dengan latar belakang yang cukup jauh.

Memang, beberapa HP modern memiliki mode sinematik yang dapat membuat latar belakang terlihat buram. Namun, efek tersebut umumnya dihasilkan melalui pemrosesan perangkat lunak, sehingga pemisahan antara subjek dan latar belakang terkadang terlihat kurang alami.

Di sisi lain, hasil bokeh pada kamera DSLR juga bergantung pada lensa, bukaan, jarak pengambilan gambar, dan kondisi pemotretan. Tidak semua rekaman DSLR otomatis menghasilkan background blur yang kuat.

8. Bisa Mengganti Lensa dan Menggunakan Filter

Kelebihan lain dari DSLR adalah fleksibilitas dalam memilih lensa. Canon EOS 700D menggunakan mount EF/EF-S sehingga dapat digunakan dengan berbagai lensa yang kompatibel.

Kita bisa memilih lensa berdasarkan kebutuhan, mulai dari lensa sudut lebar untuk vlogging hingga lensa dengan karakter optik tertentu untuk fotografi atau pengambilan video.

Kamera HP juga memiliki beberapa kamera dengan sudut pandang berbeda, dan aksesori tambahan dapat dipasang pada sebagian perangkat. Namun, sistem lensa yang dapat diganti pada DSLR memberikan fleksibilitas optik yang berbeda.

Selain lensa, kita juga bisa menggunakan filter yang dipasang langsung pada bagian depan lensa.

Salah satu contohnya adalah ND filter, yang berfungsi mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke kamera. Dengan begitu, kita memiliki pilihan lebih luas untuk mengatur exposure, termasuk menggunakan kecepatan rana yang sesuai ketika ingin mendapatkan motion blur yang terlihat alami.

Filter lain juga dapat digunakan sesuai kebutuhan, selama kompatibel dengan ukuran dan jenis lensa yang dipakai.

9. Kekurangan Terbesar DSLR untuk Vlogging: Berat

Walaupun memiliki sensor besar dan bisa menggunakan berbagai lensa, kamera DSLR mempunyai kekurangan yang sangat terasa ketika dipakai untuk vlogging, yaitu bobotnya.

Saat saya mencoba berjalan sambil merekam menggunakan Canon EOS 700D, kamera terasa cukup berat untuk dipegang dalam waktu lama. Penggunaan tripod juga menambah bobot keseluruhan perangkat.

Situasinya semakin berat karena saya memasang HP di atas kamera untuk digunakan sebagai perekam audio cadangan. Akibatnya, memegang kamera dengan satu tangan terasa tidak nyaman.

Ketika tripod dilepas, kamera memang menjadi sedikit lebih ringan. Namun, kombinasi bodi kamera dan lensa kit tetap terasa melelahkan jika digunakan untuk berjalan sambil melakukan vlogging.

Hal ini berbeda dengan HP, kamera aksi, atau kamera mirrorless yang relatif ringkas, tergantung pada model dan lensa yang digunakan.

Untuk kebutuhan merekam perjalanan, berjalan di luar ruangan, atau membuat vlog sambil berpindah-pindah tempat, bobot kamera merupakan faktor yang sangat penting. Kamera dengan kualitas gambar bagus belum tentu menjadi pilihan paling nyaman untuk digunakan.

10. Apakah Lensa Pancake Bisa Membuat DSLR Lebih Nyaman?

Salah satu solusi yang terpikirkan adalah menggunakan lensa pancake, yaitu lensa dengan desain relatif tipis dan ringkas.

Untuk kamera Canon dengan mount yang sesuai, tersedia lensa pancake seperti Canon EF-S 24mm f/2.8 STM. Desainnya yang tipis dapat membantu mengurangi panjang dan bobot sistem kamera dibandingkan penggunaan lensa kit tertentu.

Lensa seperti ini menarik karena bisa membuat kamera DSLR lebih ringkas untuk dibawa bepergian.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Pada kamera dengan sensor APS-C, focal length 24mm memberikan sudut pandang yang tidak selebar lensa ultra-wide. Ketika kamera dipegang dengan tangan untuk merekam wajah, sudut pandangnya mungkin terasa agak sempit bagi sebagian orang.

Jadi, mengganti lensa kit dengan lensa pancake bisa menjadi solusi untuk mengurangi ukuran perangkat, tetapi belum tentu menghilangkan seluruh masalah bobot dan kenyamanan saat vlogging.

11. Layar yang Bisa Dibalik, Mikrofon, dan Pengaturan Exposure

Canon EOS 700D memiliki layar yang dapat dibuka dan diputar. Fitur ini cukup membantu untuk vlogging karena kita bisa melihat tampilan gambar ketika kamera diarahkan ke wajah sendiri.

Sayangnya, posisi layar di samping kamera membuat arah pandangan mata tidak selalu sejajar dengan lensa. Ketika kita melihat layar, mata bisa terlihat seperti sedang melihat ke samping, bukan langsung ke penonton.

Kamera ini juga menyediakan jack untuk memasang mikrofon eksternal. Fitur tersebut berguna karena kualitas suara menjadi salah satu bagian penting dalam video vlog.

Dalam pengujian ini, saya menggunakan mikrofon eksternal sebagai salah satu sumber audio, sementara HP menjadi perekam cadangan. Namun, mikrofon yang digunakan sudah cukup lama dan terkadang menimbulkan suara kresek-kresek. Penyebabnya belum dapat dipastikan, apakah berasal dari mikrofon, koneksi, atau perangkat lain.

Masalah lain yang terasa adalah penyesuaian exposure ketika berpindah dari tempat gelap ke tempat terang. Dalam pengujian, perubahan exposure tidak berlangsung secepat yang diharapkan sehingga gambar sempat terlihat kurang sesuai dengan kondisi pencahayaan.

Untuk vlogging, terutama ketika berjalan dan berpindah-pindah tempat, perubahan pencahayaan seperti ini bisa cukup mengganggu. Kamera perlu mampu menyesuaikan exposure dengan baik atau diatur secara manual sesuai kebutuhan.

12. Autofocus DSLR Lawas Kurang Bisa Diandalkan untuk Video

Salah satu hal yang saya uji berikutnya adalah autofocus Canon EOS 700D ketika digunakan untuk merekam video.

Ketika kamera diarahkan kepada wajah, autofocus terlihat kesulitan menemukan dan mempertahankan fokus dengan cepat. Saat melakukan zoom in atau zoom out menggunakan lensa kit, fokus juga tidak selalu mengikuti subjek dengan baik.

Masalah seperti ini tentu mengganggu, terutama jika kita merekam diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita tidak selalu bisa memastikan apakah wajah sudah berada dalam fokus yang tepat selama proses perekaman.

Menariknya, pengalaman autofocus kamera ini berbeda ketika digunakan untuk fotografi. Saat menggunakan viewfinder dan memilih area fokus yang diinginkan, autofocus terasa jauh lebih cepat untuk mengambil foto.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan autofocus untuk fotografi tidak otomatis berarti kamera tersebut juga nyaman digunakan untuk autofocus video.

Bagi vlogger yang sering bergerak di depan kamera, autofocus yang cepat dan konsisten merupakan fitur yang sangat membantu. Kamera modern umumnya menawarkan beragam bantuan fokus untuk video, meskipun kemampuan setiap model tetap berbeda-beda.

13. Apakah Canon EOS 700D Masih Layak Dibeli?

Dalam video ini, saya menyebutkan bahwa Canon EOS 700D masih dapat ditemukan di pasar barang bekas. Harga yang saya temui saat itu berkisar sekitar Rp3,5 juta, dengan beberapa penawaran di bawah Rp3 juta.

Harga tersebut merupakan gambaran dari pengamatan saat video dibuat, bukan jaminan harga pasar saat ini. Harga kamera bekas dapat berbeda tergantung kondisi bodi, jumlah pemakaian, kelengkapan, lensa, dan penjual.

Apakah kamera ini layak dibeli? Menurut saya, jawabannya bergantung pada kebutuhan utama.

Canon EOS 700D masih menarik untuk fotografi

Untuk fotografi, kamera ini masih memiliki beberapa keunggulan yang layak dipertimbangkan:

  • Sensor APS-C yang bisa menghasilkan gambar berkualitas baik.
  • Dukungan pemotretan RAW untuk pengolahan foto lebih leluasa.
  • Kemampuan menggunakan berbagai lensa Canon EF dan EF-S yang kompatibel.
  • Dukungan aksesori seperti flash eksternal dan tripod.
  • Kontrol fotografi yang lebih lengkap dibandingkan kamera HP sederhana.

File RAW memungkinkan kita mengatur berbagai aspek foto, seperti pencahayaan, white balance, bayangan, dan highlight, menggunakan aplikasi pengolah foto seperti Lightroom atau RawTherapee. Hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi pengambilan gambar dan batas informasi yang terekam.

Dengan kelebihan tersebut, DSLR lawas masih bisa menjadi pilihan untuk belajar fotografi, berlatih menggunakan lensa, atau mendapatkan pengalaman memakai kamera dengan kontrol manual.

Untuk vlogging, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan

Jika tujuan utama kita adalah membuat video vlog, pertimbangannya akan berbeda. Kamera ini masih mampu merekam video yang layak, tetapi sejumlah keterbatasannya membuat proses perekaman menjadi kurang praktis.

Beberapa masalah utamanya adalah:

  • Bodi dan lensa terasa berat untuk digunakan sambil berjalan.
  • Video terbatas pada Full HD dengan bitrate yang tidak terlalu tinggi.
  • Proses color grading harus dilakukan dengan hati-hati agar gambar tidak mudah rusak.
  • Autofocus saat merekam video kurang bisa diandalkan dalam pengujian ini.
  • Penyesuaian exposure ketika kondisi cahaya berubah terasa kurang responsif.
  • Fitur video tidak selengkap perangkat yang dirancang lebih modern untuk perekaman.

Karena itu, sebelum membeli DSLR lawas khusus untuk vlogging, sebaiknya pertimbangkan juga kamera HP, kamera aksi, atau kamera mirrorless yang sesuai dengan anggaran dan kebutuhan.

14. Kesimpulan: DSLR Lawas Lebih Cocok untuk Fotografi daripada Vlogging

Setelah mencoba Canon EOS 700D untuk merekam video, menurut saya kamera ini masih memiliki kualitas gambar yang cukup baik. Sensor APS-C, pilihan lensa, kemampuan menghasilkan bokeh secara optik, dan dukungan filter merupakan keunggulan yang masih menarik hingga sekarang.

Namun, kualitas gambar bukan satu-satunya hal yang menentukan kenyamanan membuat vlog. Bobot kamera, autofocus, penyesuaian exposure, bitrate, dan kemudahan penggunaan juga sangat berpengaruh.

Dalam pengujian ini, kamera HP Poco F7 terasa lebih praktis untuk merekam video. Dengan aplikasi kamera bawaan saja, HP sudah mampu menawarkan resolusi dan bitrate yang lebih tinggi pada pengaturan yang saya gunakan. Penggunaan aplikasi mcpro24fps juga memberikan pilihan pengaturan perekaman yang lebih fleksibel.

Sementara itu, Canon EOS 700D lebih masuk akal jika digunakan untuk fotografi atau sebagai perangkat eksperimen bagi orang yang suka mengutak-atik pengaturan kamera dan pengolahan video.

Jika kamu sudah memiliki DSLR lawas, tidak ada salahnya mencoba menggunakannya untuk video. Kamu tetap bisa menghasilkan gambar menarik selama memahami keterbatasannya. Namun, jika kamu berencana membeli kamera khusus untuk vlogging, jangan hanya terpaku pada ukuran sensor atau kualitas gambar. Pertimbangkan juga bobot, autofocus, kualitas audio, dan kemudahan penggunaan.

Kesimpulan saya: Canon EOS 700D masih layak untuk fotografi, tetapi untuk vlogging sehari-hari, kamera HP modern terasa lebih praktis.

Bagaimana menurut kamu? Apakah kamera DSLR lawas masih menarik untuk digunakan membuat video, atau lebih baik memakai kamera HP dan kamera aksi? Tulis pendapatmu di kolom komentar!

Komentar

Postingan Populer